Penyebab pesawat mendarat dengan 'kasar' dan 'halus'

Penyebab pesawat mendarat dengan 'kasar' dan 'halus' - Barangsiapa yang sering naik pesawat dengan meskapai penerbangan yang berbeda pasti akan merasakan banyak perbedaan antara meskapai yang satu dengan lain. Entah itu pramugarinya, layanannya, keramahannya, termasuk cara mendaratnya. Pada artikel ini saya akan membahas tentang cara mendarat beberapa meskapai penerbangan di Indonesia khususnya yang low cost. Saya pilih low cost karena sering naik pesawat yang low cost alias biaya murah.

Penyebab pesawat mendarat dengan 'kasar' dan 'halus'
Sumber: Freepik

1. Mendaratnya Pesawat AirAsia

Saya itu dulu sering naik pesawat AirAsia waktu masih kuliah di Bandung. Jadi saya naik pesawat dari Bandung ke Pekanbaru atau Pekanbaru ke Bandung. Berdasarkan pengalaman mendarat menggunakan AirAsia terasa lebih kasar. Kasar disini adalah ketika pesawat AirAsia mendarat itu terasa lebih berguncang dan ada semacam efek kejutan. Baik itu di Bandung dan Pekanbaru sama saja kasarnya.

2. Mendaratnya Pesawat Lion Air

Setelah saya kerja di Tangerang Selatan saya pernah menggunakan pesawat Lion Air ketika pulang kampung dan kunjungan kerja. Jadi setiap naik pesawat saya selalu dari Bandara Soekarno Hatta. Kalau pulang ke kampung saya juga pakai Lion Air tujuan Pekanbaru. Ketika pesawat Lion Air mendarat di Jakarta itu cenderung lebih halus, namun akan kasar ketika mendarat di Pekanbaru. Waktu saya ke Balikpapan juga sama kasarnya, tapi ketika dari Balikpapan ke Jakarta pesawat Lion Air ini mendarat secara halus.


3. Mendaratnya Pesawat Citilink

Saya pernah menggunakan pesawat Citilink satu kali ketika penerbangan dari Pekanbaru ke Jakarta. Pesawat Citilink mendarat secara halus di Jakarta ketika itu. Namun saya belum merasakan sensasi mendarat di Pekanbaru menggunakan pesawat Citilink.

Kesimpulan

Jadi berdasarkan penjelasan diatas, sebenarnya semua pesawat itu bisa mendarat secara halus tergantung panjang pendeknya lintasan atau jalur pacu pesawat. Jalur pacu pesawat di Bandung dan Pekanbaru itu tergolong pendek, sehingga setiap pesawat yang mendarat itu rata-rata mendarat secara kasar. Ketika pesawat mendarat di Bandung dan Pekanbaru langsung direm. Berbeda halnya dengan bandara Soekarno Hatta di Tangerang yang memiliki jalur pacu yang lebih panjang. Jadi pesawat tidak langsung direm, ada sedikit jeda baru kemudian direm, sehingga pesawat bisa mendarat secara halus.

Namun lagi-lagi faktor manusia punya pengaruh yang besar juga. Pengalaman si pilot dan jam terbang yang tinggi tentunya akan membuat si pilot bisa mendaratkan pasawat secara halus.

Catatan: Saya belum pernah naik Batik Air, Garuda Indonesia dan pesawat lainnya. Dilain kesempatan saya akan menceritakan pengalaman naik Batik Air dan Garuda Indonesia. Mungkin pesawat lainnya juga.